Rabu, 26 November 2008

Pantun

Informasi pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.Dalam bahasa jawa,misalnya,dikenal sebagai parokan dan dalam bahasa sunda dikenal sebagai paparikan.Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan),bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a,a-a-b-b,atau a-b-b-a).Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian:sampiran dan isi.Sampiran adalh dua baris pertama,kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya),dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian ke dua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak.Dua baris terakhir merupakan isi,yang merupakan tujuan dan pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun,dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi.Karmina merupakan pantun ‘’versi pendek’’ (hanya dua baris),sedangkan talibun adalah ‘’versi panjang’’ (enam baris atau lebih).




Peran pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa,pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemapuan menjaga alur berfikir.Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.Ia juga melatih orang berfikir asosiatif,bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secar sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat,bahkan hingga sekarang.Di kalangan pemuda sekarang,kemampuan berpantun biasanya dihargai.Pantun menunjukan kecepatan seseorang dalm berfikir dan bermain-main dengan kata.Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain.
Berikut contoh pantun (sebetulnya karmina) dari kalangan pemuda:
Mawar merah tumbuh di dinding Jangan marah,jus kidding
Namun demikian,secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Sruktur pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun.Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umunya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi.Sebagai contoh dalam pantun ini:
Air dalm bertambah dalam Hujan di hulu belum lagi teduh Hati dendam bertambah dendam Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eopa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya.mislnya stsatu larik pantun biasanya terdiri atas 4-5 kata dan 8-12 suku kata.Namun aturan ini tak selalu berlaku.

Tidak ada komentar: