Minggu, 30 November 2008

Kleyeng-Kleyeng Trus Kejedot Tembok

Hari ini tanggal 1 Desember 08 pas hari Senin aku masuk sekolah.Hari ini aku di sekolah ada apel terus pas udah mau selesai gitu aku keringet dingin lalu mata ku agak samar-samar gitu.Lalu aku bilang ke ke kakak osis nya mau ke toilet padahal aku cuma mau duduk sebentar aja soalnya aku udah pusing banget hampir mau jatuh.Lalu setelah diizinin aku jalan nya udah sempoyongan gitu.Tiba-tiba aku uda setengah engga sadar (pingsan),tiba-tiba aku udah kejeduk tembok terus aku sadar ngeliat ka Fitri sambil ada orang tapi samar-samar doang jadi burem terus jadi engga keliatan lalu bangun-bangun aku udah di suruh buka sepatu sama mas yang ada di UKS.

Rabu, 26 November 2008

Pantun

Informasi pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.Dalam bahasa jawa,misalnya,dikenal sebagai parokan dan dalam bahasa sunda dikenal sebagai paparikan.Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan),bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a,a-a-b-b,atau a-b-b-a).Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian:sampiran dan isi.Sampiran adalh dua baris pertama,kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya),dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian ke dua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak.Dua baris terakhir merupakan isi,yang merupakan tujuan dan pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun,dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi.Karmina merupakan pantun ‘’versi pendek’’ (hanya dua baris),sedangkan talibun adalah ‘’versi panjang’’ (enam baris atau lebih).




Peran pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa,pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemapuan menjaga alur berfikir.Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.Ia juga melatih orang berfikir asosiatif,bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secar sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat,bahkan hingga sekarang.Di kalangan pemuda sekarang,kemampuan berpantun biasanya dihargai.Pantun menunjukan kecepatan seseorang dalm berfikir dan bermain-main dengan kata.Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain.
Berikut contoh pantun (sebetulnya karmina) dari kalangan pemuda:
Mawar merah tumbuh di dinding Jangan marah,jus kidding
Namun demikian,secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Sruktur pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun.Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umunya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi.Sebagai contoh dalam pantun ini:
Air dalm bertambah dalam Hujan di hulu belum lagi teduh Hati dendam bertambah dendam Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eopa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya.mislnya stsatu larik pantun biasanya terdiri atas 4-5 kata dan 8-12 suku kata.Namun aturan ini tak selalu berlaku.

Buku Harian

Informasi Buku Harian
Buku harian adalah catatan kejadian yang berkesan yang pernah dialami oleh diri kita
Bentuk-bentuk pengungkapan diri dalm buku harian:
1. Tulisan lepas perasaan
Dilakuka dibawah tekanan perasaan sangat intensif yang membutuhkan penyaluran keluar,misalnya:marah,sedih,gembira,dll.
2. Pelukisan
Deskripsi pengalamn yang sangat berkesan atau mengenai apapun juga harus dipilih hal-hal yang dilukiskan sebaik-baik nya.
3. Tulisan ilham bebas
Bersumber pada dari lubuk batin atu alam bawah sadar.
4. Perenungan
Dapat juga disebut pengamatan diri atau permenungan,yaitu pengamatan terhadap proses kehidupan dari dri sendiri.Biasanya yng dipakai adalh metide bertanya terhadap diri sendiri berupa pertanyaan refleksi diri.
Teknik-teknik khusus dalam penulisan buku harian
1. Daftar:catatan daftar urut yang memuat rincian dari peristiwa atau pesan yang dialami.
2. Gambaran:teknik pemberian apa saja,sebuah penglamn,seseorang,sustu bendaatausiatu keinginan.
3. Peta kesadaran merupakan coretan gambaran bebas atau grafik untuk menungkapkan apa yang ada dalam pikiran seseorang.
4. Khayalan terarah:serupa dengan tulisan ilham bebas berdasarkan suasana santai dan pembebasan pikiran dari penendalian yang sadar.
5. Sudut oandangan yang dibalik:menempatkan diri sebagai orang lain atau denagan mengubah orang lain menjadi 'aku' untuk memaklumi pandangan orang lain.
6. Surat tak dikirim:dipergunakan untuk mengatasi hukum ruang da waktu,ditujukan kepada siapa saja dan dimana saja.
7. Percakapan:digunakan untuk membantu meperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang,suatu perstiwa atau sebuah persoalan.
Azas penulisan buku harian:
menulis secara serta merta,jujur,mendalam,dan tepat.

Selasa, 18 November 2008

Cerpen

Gara-Gara Nasi Aking
Oleh Yuni Mulya

Seusai pulang sekolah Nadia dan Asti berencana menengok Rara. Sudah tiga hari ini, Rara tidak masuk sekolah. Dua hari yang lalu, ibunya Rara menemui Pak Salman. Pak Salman adalah wali kelas Rara. Ibunya Rara memberitahukan bahwa anaknya terserang diare. Pak Salman memerintahkan anak-anak kelas lima untuk menengok Rara. Sedangkan, Pak Salman akan menengok Rara nanti sore. Anak-anak yang lain pun rencananya akan menengok Rara nanti sore bersama Pak Salman.
Jam pelajaran telah usai. Anak-anak kelas lima saling berebutan untuk keluar kelas. Terutama anak laki-lakinya saling dorong. Malah, ada beberapa anak yang terjatuh gara-gara dorongan itu. Ada juga anak perempuan yang berteriak untuk menghentikan aksi saling dorong itu. Pak Salman jadi geleng-geleng kepala. Gara-gara aksi saling dorong itu, tangan kiri Asti tergores gagang pintu yang menancap di pintu kelasnya. Asti jadi manyun.
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Nadia sambil memegang tangan kiri Asti.
“Aduh. Perih nih. Dasar anak-anak bandel. Coba kalau nggak dorong-dorong. Tanganku nggak akan begini,” ucap Asti sewot.
“Kita ke UKS dulu kalau begitu,” sahut Nadia lembut.''
“Sudahlah. Tidak usah. Lukanya tidak begitu parah kok. Tanganku cuma tergores. Lebih baik kita langsung ke rumah Rara, yuk!”
Nadia menganggukkan kepalanya. Nadia dan Asti bersama anak-anak SD Cempaka berbondong-bondong ke luar dari gerbang sekolah. Mereka segera meninggalkan gedung sekolahnya. Mereka berjalan ke arah utara menuju Rumah Rara. Mereka melewati persawahan. Mereka berjalan di atas pematang sawah. Di sepanjang jalan, mereka mengamati para petani yang sedang memanen padi-padinya. Selama beberapa hari ini desa mereka sering diguyur hujan. Air hujan membuat tanah menjadi basah dan licin. Mereka pun harus berhati-hati agar tidak jatuh ke sawah. Mereka membuka sepatunya dan berjalan tanpa alas kaki. Sementara tangan kanan mereka menjinjing sepatu.
Rumah Rara letaknya cukup jauh dari sekolah. Hampir setengah jam Nadia dan Asti berjalan. Kini sudah tampak rumah Rara yang dindingnya semi permanen. Bagian atas dinding sampai ke bagian tengahnya terbuat dari bilik bambu. Sementara yang lainnya terbuat dari tembok. Atapnya terbuat dari pohon enau. Sedangkan lantainya beralaskan tanah. Di depan rumah itu tampak Arya sedang makan di dipan bambu. Arya adalah adik Rara. Nadia dan Asti segera memakai kembali sepatunya. Lalu, mereka menghampiri Arya.
“Arya, kalau Kak Rara ada?” tanya Asti sambil memberikan lima butir permen. Arya meletakkan piringnya yang masih penuh dengan nasi tanpa lauk pauk. Dia tampak senang ketika melihat permen di tangan kanan Asti. Arya membuka tangan kanannya dengan beberapa butir nasi melekat di tangannya.
“Asyik permen. Kak Rara lagi sakit. Sekarang sedang tidur di kamarnya.”
“Arya kalau diberi bilang apa coba?” Nadia mengingatkan Arya.
“Kata ibu guru harus bilang terima kasih. Maaf lupa. Terima kasih ya, Kak,” jawab Arya sambil berlari masuk ke rumah.
“Arya, kok makananya tidak dihabiskan. Masih banyak nasinya di piring,” teriak Nadia.
Arya menoleh ke belakang. “Habis, makanannya nggak enak. Aku pilih makan permen saja.”
Arya pun masuk ke rumah. Tiba-tiba ibu Rara muncul dari balik pintu. Ia pun segera mempersilahkan mereka masuk ke rumah. Di ruang tamu, Ibunya Rara bercerita kalau Rara sakit diare gara-gara makan nasi Aking.
“Maaf, Bu, kalau nasi aking itu apa?” Nadia jadi penasaran.
“Nasi sisa beberapa hari yang lalu. Kadang nasi yang sudah basi. Ibu keringkan di bawah sinar matahari. Kalau sudah mengeras dan kering, Ibu cuci kembali dan dimasak. Maklumlah, Nak, Ibu tidak punya uang untuk membeli beras,” Ibu Rara menjelaskan. Matanya tampak berkaca-kaca.
Hati Nadia dan Asti jadi tersentuh. Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ternyata, Rara harus makan nasi seperti itu. Tiba-tiba Rara muncul dari balik pintu kamar tidurnya. Mukanya nampak begitu pucat.
“Eh, kalian ada disini. Maaf tadi aku tidak tahu. Aku ketiduran,” jawab Rara. Badannya lemah lunglai dan bibirnya tampak pecah-pecah.
“Tidak apa-apa kok. Sebaiknya kamu istirahat saja,” nasehat Asti.
“Tadi aku sudah banyak istirahat kok. Lagipula, Ibu sudah memberiku segelas air larutan garam dan gula. Perutku sudah tidak kembung lagi sekarang,” jelas Rara.
Jam menunjukkan pukul setengah dua. Nadia dan Asti pamit kepada ibunya Rara. Mereka pun berharap semoga Rara cepat sembuh dan bisa sekolah lagi. Di sepanjang perjalanan pulang, mereka membicarakan tentang nasi aking.
“Kasihan Rara,ya! Aku jadi malu sendiri. Habis selama ini aku suka membuang-buang nasi. Kalau aku makan tidak pernah habis. Akhirnya, aku buang nasi itu ke tong sampah,” lirih Nadia.
Asti pun mengangguk. Mereka baru sadar kalau membuang nasi itu perbuatan yang buruk. Membuang-buang nasi menunjukkan sikap tidak bersyukur kepada Tuhan. Nadia dan Asti berjanji tidak akan membuang-buang nasi lagi. Sebelum berpisah, mereka sepakat untuk mengajak temannya mengumpulkan beras seikhlasnya. Keesokan harinya mereka mengajak anak-anak di kelasnya menyumbangkan beras untuk Rara. Esok lusanya, Pak Salman dan teman-teman sekelas Rara menyerahkan sekarung beras untuk keluarga Rara. Ibu Rara tampak terharu menerimanya.
Amanat : Kita harus saling tolong menolong dan kita tidak boleh menghambur-hamburkan nasi karena masih banyak di luar sana yang memerlukan sandang pangan.